Ganjar Sebut Riuh di Medsos, Tak Retakan Hubungannya Dengan Puan

oleh -17 views

 

Voiceoftimor.com, Jakarta –
Kendati tak diundang ke acara Puan Maharani, bahkan diserang sesama kader PDIP, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menampik, dirinya tak berpolemik apalagi bertengkar dengan putri Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, itu. Ganjar malah memuji-muji Puan setinggi langit, jika Puan marupakan salah satu tokoh penting yang mengantarnya menuju kursi nomor satu Jawa Tengah.

Ganjar berusaha meluruskan polemik yang melibatkan dirinya dengan Puan usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jawa Tengah.

“Sampai hari ini saya tidak pernah berkonflik dengan beliau (Puan).” tutur Ganjar, seperti dilansir Warta Ekonomi.co.id

Buktinya, sehari sebelum disindir kemajon alias oleh Ketua Bapilu PDIP Bambang Wuryanto dan sentilan pemimpin medsos oleh Puan dalam acara PDIP yang digelar di Jateng, Sabtu (22/5) lalu, Ganjar sempat sowan ke Mega. Dalam rangka halalbihalal. Ketika itu, ada Puan juga di sana.

“Dan kami sempat bercanda,” sambungnya.

Dalam pertemuan itu, Ganjar diketahui turut mengantarkan lukisan karya Djoko Susilo untuk Megawati. Mendapat lukisan, bos banteng happy.

Karena itu, orang nomor satu di Jateng itu kaget ketika melihat gejolak di sosial media, khususnya setelah keluar komentar-komentar pedas dari PDIP terkait dirinya.

“Jadi ketika kemudian di medsos sepertinya saya sungguh-sungguh, saya sangat kaget, saya ini orang Jawa kader partai yang diajari untuk mendem jero mikul,” ujarnya.

Baginya, Puan adalah sosok yang sangat dihormati. Jasa putri Mega itu besar, dalam menjadikannya sebagai Gubernur Jateng. Apalagi ketika awal mula ia dimunculkan sebagai calon gubernur tahun 2013 lalu, elektabilitasnya masih rendah.

“Mbak Puan lah sebenarnya komandan tempurnya. Itu tidak pernah lupa, saya tidak punya modal saat itu,” kenangnya.

Semenjak Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bilang, polemik Ganjar di internal partai sudah kelar. Ia mewanti-wanti pasukannya untuk merapatkan barisan. Mengantisipasi upaya pihak tertentu yang tengah melakukan dansa politik dan ingin memecah-belah partainya.

“Apa yang terjadi di Jateng itu dinamika politik yang biasa di PDIP,” kata Hasto, kemarin.

Tidak hanya Ganjar. Sebelumnya, sebut Hasto, Jokowi, Ahok, Risma dan calon-calon pemimpin dari PDIP di setiap kontestasi juga pernah melewati dialektika serupa di internal.

“Tapi kita punya kultur dalam menyikapi dialektika itu,” tegasnya.

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai sikap mengalah yang ditunjukkan Ganjar memang sudah semestinya. Karena selaku kader PDIP, jebolan magister ilmu sosial dan politik Universitas Indonesia itu tak punya pilihan lain.

“Ganjar mungkin tahu diri. Tahu kultur di PDIP. Tak boleh posisinya menyalip bosnya,” kata Ujang.

Ia menduga ada adagium: sesama bus kota, tidak boleh saling mendahului, berlaku di Partai Banteng. Tidak boleh ada yang melampaui bosnya dalam hal politik maupun elektabilitas.

“Jika ada, maka akan dihajar. Nah saat ini lah hal tersebut yang terjadi pada Ganjar,” imbuhnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu melihat Ganjar tak mau berkonfrontasi dengan Puan dan PDIP. Karena Ganjar sangat paham jika dia melawan atau bermusuhan, akan tamatlah karir politiknya di PDIP. Maka puja-puji Puan pada akhirnya adalah sebuah keniscayaan.

“Tak ada jalan dan tak ada pilihan bagi Ganjar, selain berbaik-baikan dengan Puan,” pungkasnya. (Ar)