Kajari TTU Bidik Dugaan Korupsi APBD, Pekan Depan Program PKP Mulai Dilidik

oleh -791 views

Voiceoftimor.com, Kefamenanu- Setelah menerima laporan dari Lembaga Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) Nusa Tenggara Timur (NTT) terkait adanya dugaan korupsi dalam pelaksanaan program Padat Karya Pangan, Kejaksaan Negeri (Kejari) Timor Tengah Utara (TTU) langsung bergerak melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (Pulbaket) terkait pelaksanaan program unggulan Mantan Bupati dan Wakil Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes dan Aloysius Kobes itu.

Proses pulbaket program PKP tengah berjalan. Item bahan yang dikumpulkan adalah  dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan program tersebut. Proses pulbaket tersebut dilakukan karena dalam laporan yang diterima pihaknya, terdapat indikasi adanya praktik korupsi dalam pelaksanaan program tersebut.

“Saat ini kita sedang lakukan pengumpulam bahan dan keterangan dalam pelaksanaan program PKP. Saya sudah terbitkan sprin penyelidikan. Pekan depan kami sudah bisa memulai penyelidikan,”beber Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) TTU, Roberth Jimmy Lambila, Selasa (22/06/2021).

Ketika ditanyai terkait alasan pelaksanaan pulbaket tersebut, Roberth menyebut ada dugaan praktik korupsi. Meskipun demikian, ia enggan menjelaskan lebih jauh karena hal tersebut masih dalam konsumsi penyelidikan.

“Penyelidikan ini berdasarkan laporan Lakmas. Kita sedang mengumpulkan bahan di lapangan apakah ada praktik korupsi di sana atau tidak. Soal materi kita belum bisa menjelaskan lebih jauh karena masih dalam konsumsi penyelidikan,”tutup Roberth.

Program PKP atau yang dikenal dengan Raskin Pola Padat Karya Pangan (Raskin Pola PKP) merupalan salah satu program unggulan Mantan Bupati dan Wakil Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandez dan Aloysius Kobes. Dalam program tersebut, Pemkab memberikan raskin secara gratis kepada masyarakat dengan syarat masyarakat wajib mengelola sawah atau lahan pertanian sendiri dengan target 0,25 ha per tahun.

Pelaksanaan Raskin Pola PKP dimaksudkan untuk memanfaatkan lahan tidur (lahan basah dan lahan kering potensial), mengurangi sistem tebas bakar dan perladangan berpindah, memperkecil erosi permukaan dan menjaga kelestarian lingkungan melalui sistem wanatani lahan dan pembuatan terasering.(Ec)