Sadis, Aksi Premanisme Satgas Covid-19 Keroyok Warga Hingga Sekarat

oleh -3.501 views

Voiceoftimor.com, Sikka – Upaya pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berujung pada tindakan arogan dan main hakim sendiri oleh aparat Satgas Pengendalian Covid-19 Kabupaten Sikka. Dalam Operasi Yustisi PPKM yang digelar Selasa (6/7/2021) malam, sejumlah aparat gabungan Satgas Covid-19 yang terdiri dari anggota TNI dan Polri serta Satpol PP Sikka melakukan pengeroyokan terhadap Emanuel Manda, warga Lingkar Luar, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Pengeroyokan tersebut terjadi lantaran korban terlambat menutup pintu kios miliknya. Pengeroyokan yang membabi buta tersebut mengakibatkan korban menderita luka sobek dan bengkak pada pelipis mata dan harus segera dilarikan ke IGD Rumah Sakit TC Hillers Maumere.

Pengeroyokan itu terjadi di hadapan istri korban, Novayanti Alfrida Piterson. Menurut Nova, kejadian tersebut berawal ketika ia bersama suaminya baru pulang dari Kewapante dan melihat pintu kios miliknya masih terbuka. Dia masuk ke dalam kios dan meminta suaminya untuk menutup pintu kios. Selang beberapa saat kemudian, para petugas gabungan Satgas Covid-19 sudah berada di depan pintu kios dan menegurnya.

Saat itu, ia bersama suami berusaha menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Namun, petugas Satgas enggan mendengarkan dan bahkan mulai mempersalahkan keduanya karena tidak menggunakan masker. Padahal, saat itu mereka berada di rumah dan tidak ada kerumunan. Tak puas dengan penjelasan yang diberikan, petugas pun mengambil tindakan main hakim sendiri.

“Saya dan suami saya sudah jelaskan ke mereka bahwa kami baru pulang dari kawapante dan mau tutup kios, namun mereka tidak mau tahu dan memaksa harus pake masker, padahal hanya saya dengan suami saja di situ. Lagian, kami juga tidak ada kerumunan di situ. kok, bisa bisanya mereka paksa suami harus pakai masker. Padahal sudah dijelaskan oleh suami saya bahwa maskernya digantung di dalam kios, tapi malah mereka menarik kerak baju suami saya dan muat di mobil, sambil menghujani suami saya dengan pukulan berulang kali hingga suami saya babak belur dan darah keluar dari pelipis mata”Jelas Nova sambil menangis.

Melihat aksi pengeroyokan itu Nova berteriak meminta maaf dan menjelaskan berulang kali namun satgas menolaknya ke samping dan terus mengayunkan pukulan ke wajah dan tubuh korban. Akibat pemukulan yang dilakukan oleh petugas Covid 19, pelipis, dahi dan sekujur tubuh suaminya terluka dan lebam, dan terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Nova mengaku sebagai WNI ia menghargai kerja petugas gabungan Satgas Covid-19 namun tidak harus melampaui kewenangan mereka dengan cara premanisme dan arogan.

“Soal mereka jalankan tugas, ya saya akui tetapi jangan main hakim sendiri begini, masa ajak orang untuk sehat kok main tinju, ini petugas pencegahan kok kayak preman saja” sesal Nova.

Terkait ini, Kepala Satuan polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sikka, Adeodatus Buang Da Cunha saat dikonfirmasi menjelaskan petugas sudah memberikan teguran karena tidak memakai masker. Namun, kelihatan yang bersangkutan tidak mau menerima.

“Saya juga tidak tahu tiba-tiba yang bersangkutan kena pukul dari petugas. Kemungkinan yang bersangkutan melawan karena tidak mau terima teguran dari petugas. Jadi anggota emosi dan pukul yang bersangkutan”, jawab Buang dengan enteng. (Man)