Aksi Kekerasan Terhadap Siswa Baru Hingga Katai ‘Anjing’ Panitia MPLS Tuai Kecaman Netizen

oleh -719 views

Voiceoftimor.com, Sumba Barat Daya – Sebuah video pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau yang biasa dikenal dengan Masa Orientasi Siswa (MOS) di sebuah SMA viral di media sosial. Dalam video tersebut, nampak beberapa orang yang diketahui sebagai Panitia MPLS/MOS tengah mengerumuni seorang siswa baru berseragam SMP yang mengenakan topi dari pelepah pinang. Sebuah papan nama dari sepotong kertas kardus digantung pada lehernya dengan menggunakan tali rafia. Sang siswa baru itu berdiri tegak dengan posisi hormat dan menyanyikan lagu Garuda Pancasila.

Sepintas, tidak ada yang janggal dalam video itu. Namun, saat mendengar bentakan dan teriakan serta makian yang keluar dari mulut para panitia, membuat kita sadar ada yang tidak beres dalam proses pelaksanaan MOS di SMA itu. Dalam video tersebut, terdengar suara panitia perempuan dan laki-laki yang tengah membentak sang siswa baru dan memaksanya menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Salah satu panitia perempuan dengan dialek Sumba yang sangat kental bahkan mengatai sang siswa baru dengan kata ‘anjing’. Beberapa panitia laki-laki mengancam akan menampar sang siswa baru dan mengembalikannya ke SMP. Si anak baru tersebut hanya bisa pasrah dan menangis menghadapi ulah senior-seniornya yang sungguh sangat tidak mendidik itu.

Berdasarkan penelusuran Voiceoftimor.com, pelaksanaan MOS yang tidak mendidik itu diketahui terjadi di SMK Deo Gloriam Wanno Muttu yang terletak di Jalan Pertigaan Wanno Muttu, Lagalete, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi NTT. Sekolah swasta tersebut diketahui baru didirikan pada 20 Mei 2021 lalu. Dengan demikian, MOS tersebut merupakan MOS pertama yang dilaksanakan oleh panitia dari kalangan siswa.

Video pelaksanaan MOS tersebut menuai beragam komentar dari netizen. Hampir sebagian besar netizen mengutuk keras sikap dan tindakan arogan yang dipertontonkan oleh para panitia MOS di sekolah tersebut. Ada pula yang menyayangkan penggunaan Bahasa Indonesia para panitia MOS yang dinilai ‘jatuh-bangun’ dan tidak sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Padahal, kegiatan MOS tersebut seharusnya menjadi wadah belajar bagi para siswa baru, terutama bagaimana berbicara di depan umum. Tak hanya itu, para netizen juga meminta pihak yang berwajib menertibkan pelaksanaan PLS/MOS yang dinilai tidak mendidik itu.

Selang beberapa waktu setelah video tersebut viral di media sosial, pihak SMK Deo Gloriam Wanno Muttu merilis video klarifikasi dan permohonan maaf atas sikap para panitia MPLS/MOS. Pihak sekolah berjanji akan memperbaiki dan mendampingi proses pembelajaran di sekolah tersebut sehingga kesalahan serupa tidak terulang kembali.(Man)