Kantongi Dana Reses Puluhan Juta, Anggota Dewan Jarang Reses

oleh -593 views

Voiceoftimor.com, Kefamenanu – Masyarakat Desa Humusu Wini, Kecamatan Insana Utara, meminta para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara (DPRD TTU) dari daerah pemilihan (dapil) II Insana agar benar-benar menjalankan kewajiban reses untuk menampung aspirasi masyarakat. Pasalnya, selama ini, tidak ada satu pun anggota DPRD TTU dari dapil II yang turun dan melakukan reses di Kecamatan Insana Utara.

Masyarakat baru mengetahui bahwa sebenarnya ada reses yang wajib dilaksanakan oleh Anggota DPRD Kabupaten TTU setelah Anggota DPRD TTU asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Andina Winantuningtyas, menggelar reses perdananya di Desa Humusu Wini, setelah resmi menjabat sebagai Anggota DPRD TTU melalui pergantian antar waktu (PAW).

“Reses ini merupakan hal baru, karena kami baru tahu kalau ada reses dari anggota dewan kabupaten. Sudah bertahun-tahun kami tidak dikunjungi anggota dewan dari dapil II untuk kepentingan reses. Mungkin di desa lain. Keluhan persoalan yang kami hadapi mau kami suarakan melalui siapa. Lewat musdus dan musdes pun tidak terealisasi,”ungkap Kepala Desa Humusu Wini, Alfridus Bana, belum lama ini di Wini.

Menurut Alfridus,  Anggota DPRD TTU, Andina Winantuningtyas merupakan anggota dewan kabupaten pertama yang melaksanakan reses di Desa Humusu Wini. Moment tersebut sangat membahagiakan karena masyarakat bisa menyampaikan semua persoalan, masalah, dan potensi yang ada di wilayah tersebut.

Sementara anggota DPRD Provinsi NTT dan DPR RI yang sering melaksanakan reses di wilayah tersebut, Alfridus menyebut Anggota DPRD Provinsi NTT, Kasimirus Kollo, Anggota DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat dan Ansy Lema kerap turun melaksanakan reses dan memberikan bantuan kepada masyarakat di wilayah tersebut.

Ia dan masyarakat Desa Humusu Wini sangat berharap para anggota DPRD TTU dari dapil II Insana mengunjungi dan mendengarkan aspirasi mereka. Pasalnya, masyarakat Desa Humusu Wini memiliki berbagai macam persoalan yang harus diselesaikan dan juga potensi yang dapat dikembangkan ke depannya.

“Ada potensi yang sangat besar di desa ini. Ini desa perbatasan dan desa wisata yang punya pelabuhan dan pintu batas. Mungkin juga PAD paling besar. Tapi mengapa para anggota dewan kami tidak pernah datang dan melihat persoalan yang dialami masyarakat di sini,”pungkasnya.

Sementara informasi yang dihimpun media ini, disebutkan idealnya kegiatan reses dilakukan 3 kali dalam satu tahun dengan rentan waktu, masa sidang pertama antara bulan Januari hingga April, masa sidang kedua antara bulan Mei hingga Agustus dan masa sidang ketiga antara bulan September hingga Desember.

Reses bertujuan menyerap dan menindaklanjuti aspirasi konstituen dan pengaduan masyarakat guna memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada kontituen di daerah pemilihan sebagai perwujudan perwakilan rakyat dalam pemerintahan.

Masing-masing anggota dewan khusus di Kabupaten TTU dibiayai hampir mencapai 30 juta per orang pada setiap kali reses, agar kembali ke masing-masing daerah pemilihan untuk menjaring aspirasi rakyat. Jika ditotalkan, dana reses setahun hampir mencapai 90 juta rupiah. dana yang digelontorkan tanpa menguras sedikit pun gaji pokok mereka setiap bulan.

Sementara besaran dana reses untuk DPRD Provinsi dan DPR RI, jauh lebih fantastis, yakni puluhan hingga ratusan juta setiap kali reses. Meskipun demikian, aktivitas reses terlihat jarang dilakukan oleh para wakil rakyat disetiap tingkatan. (Man)