Aksi Mahasiswa Langgar Protkes, Ketua IARMI Minta Polda NTT Profesional Tegakkan Hukum

oleh -256 views

Voiceoftimor.com, Kefamenanu – Ketua Jaringan Pengusaha Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur, Fahmi Abdullah, sangat menyayangkan aksi mahasiswa yang digelar untuk memprotes kegiatan Pengukuhan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang digelar di Pantai Otan, Pulau Semau, pada Jumat (27/8/2021) lalu. Aksi tersebut digelar tanpa memperhatikan protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan menggunakan masker.

Sikap para mahasiswa tersebut seolah mengabaikan nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Para mahasiswa mengkritisi pelaksanaan kegiatan yang disebut melanggar protokol kesehatan, sementara mereka sendiri secara terang-terangan berkerumun tanpa menggunakan masker. Polda NTT harus melakukan pemeriksaan terhadap kelompok mahasiswa yang melanggar protokol kesehatan itu, sama seperti langkah yang telah diambil terhadap panitia penyelenggara kegiatan di Semau.

“Aksi protes para mahasiswa itu mengabaikan apa yang mereka perjuangkan. Ada nilai yang hilang di situ. Inilah yang harus kita dudukkan secara proporsional,”ungkap Mantan Ketua HIPMI itu, Rabu (8/9/2021) di Kefamenanu.

Fahmi mengungkapkan dirinya turut hadir dalam kegiatan pengukuhan TPAKD di Semau. Ia diundang oleh Bank NTT karena ia termasuk salah satu offtaker yang ikut berkerja sama dan bermitra dengan Bank NTT untuk membantu para UMKM. Pihaknya membantu memasarkan beberapa produk UMKM di wilayah Kabupaten TTU dan Belu.

Menurut Fahmi, kegiatan yang dihadiri oleh Gubernur NTT dan para bupati, Sekda serta beberapa tamu undangan lainnya itu dilaksanakan dengan benar-benar memperhatikan protokol kesehatan. Peserta duduk mengitari meja besar yang disediakan. Masing-masing meja hanya diisi oleh empat orang. Selama kegiatan berlangsung, pembawa acara terus mengingatkan peserta agar menaati protokol kesehatan.

Ia juga menegaskan tidak ada pesta pora dalam kegiatan tersebut. Para pengisi acara merupakan penyanyi-penyanyi lokal yang tengah mempromosikan album baru mereka. Dengan demikian sangat berlebihan jika kegiatan tersebut dianggap sebagai pesta pora.

“Video yang viral itu diambil saat kegiatan telah usai dan para peserta bubar. Semua berdiri bersamaan karena akan pulang. Jadi, kelihatannya berkerumun. Ada sebagian berdiri untuk melihat sunset. Jadi, itu agak berlebihan jika disebut pesta pora, karena tidak ada pesta pora di sana. Itu niat baik dari Pemda dan Bank NTT untuk menggerakkan ekonomi di tengah pandemi. Saya lihat prokes berjalan dengan baik. Kalau disebut pesta pora dan lain-lain itu sangat berlebihan. Sementara kegiatan dilakukan di daerah yang tergolongzona hijau, berbeda dengan aksi demo di Kota Kupang yang sampai saat ini berstatus level 4, “jelasnya.

Ketua Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) itu mengecam tindakan kelompok mahasiswa yang nekad berkerumun dan melanggar protokol kesehatan untuk memprotes pelaksanaan kegiatan yang dianggap melanggar protokol kesehatan. Polda NTT harus berpegang teguh dengan komitmen penegakan hukum dengan memproses hukum pelanggaran protokol kesehatan yang terjadi dalam aksi mahasiswa tersebut.

Jika saat ini Polda sedang memeriksa panitia yang melaksanakan kegiatan di Pantai Otan, maka Polda juga harus konsisten memeriksa kelompok mahasiswa yang menggelar aksi. Jangan sampai pihak-pihak yang memiliki niat baik untuk kembali membangun ekonomi diperiksa, sementara mereka yang melakukan aksi dengan melanggar prokes tidak diperiksa.

“Saya berharap Polda harus memeriksa para mahasiswa yang menggelar aksi tanpa mematuhi protokol kesehatan. Ini akan menjadi pembelajaran buat mereka. Mari kita konsisten dan jangan tebang pilih. Kalau mereka mendesak Polda untuk mengusut dugaan pelanggaran protokol kesehatan di Pulau Semau, maka Polda juga sudah melihat kerumuman yang tidak mematuhi protokol kesehatan maka pemberlakuan hukum yang sama juga harus diterapkan,”pungkasnya.(Man)