Setelah Lama Membisu, Dirut RS Leona Angkat Bicara Terkait Dugaan Manipulasi Hasil Rapid

oleh -2.363 views

Voiceoftimor.com, Kefamenanu – Direktur Rumah Sakit (RS) Leona Kefamenanu, angkat bicara terkait dugaan manipulasi hasil rapid tes dua orang warga Desa Noebaun, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang menjalani rapid tes di rumah sakit tersebut. Hasil rapid tes dua orang warga tersebut di RS Leona Kefamenanu berbeda dengan hasil rapid tes Tim Satgas Covid-19 Kabupaten TTU berbeda karena alat pemeriksaan yang digunakan berbeda.

Jenis rapid tes yang dijalani di RS Leona adalah rapid antibody, sementara rapid tes dari pihak Satgas adalah rapid antigen. Rapid antibody digunakan untuk menjajaki dengan cepat respon imunitas tubuh terhadap virus yang sudah masuk dalam tubuh orang. Respon imun tersebut terbentuk dalam tubuh yang telah terinfeksi. Sementara rapid antigen mendeteksi partikel virus dalam hal  ini protein virus di hidung hingga tenggorokan seorang. Hasil rapid antigen dinyatakan positif jika jumlah virus mencapai kadar tertentu. Jumlah virus tertinggi dapat terdeteksi pada hari kedua hingga kurang dari hari ketujuh setelah terinfeksi.

“Kronologi kejadiannya, pada hari Minggu tanggal 8 Agustus 2021 datang dua orang anak beserta walinya ke RS Leona Kefamenanu untuk melakukan pemeriksaan rapid. Setelah dijelaskan  bahwa terdapat pilihan rapid antibody dan antigen, kedua wali memilih untuk melakukan pemeriksaan rapid antibody. Jadi, mereka atas permintaan sendiri melakukan pemeriksaan rapid antibody serta ada penjelasan selanjutnya apabila hasil pemeriksaan reaktif keduanya harus bersedia mengikuti alur yang sudah ditetapkan di Kabupaten TTU, dan mereka memberikan persetujuan secara tertulis dengan menandatangani form persetujuan untuk pemeriksaan rapid. Jadi, di Leona, untuk pemeriksaan rapid, semuanya dengan persetujuan tertulis,” ungkap Direktur RS Leona Kefamenanu,  Rizki Anugrah Dewati dalam konferensi Pers Selasa (14/9/2021), di Kefamenanu.

Rizki menambahkan, setelah dilakukan pemeriksaan, petugas memberitahukan hasil pemeriksaan bahwa kedua anak tersebut reaktif rapid antibody. Kedua wali merasa keberatan dan kemudian langsung meninggalkan RS. Leona. Pihak rumah sakit Leona, mengikuti alur yang selama ini ditetapkan di TTU. Jika ditemukan hasil pemeriksaan rapid antibody reaktif maupun pemeriksaan rapid antigen positif maka segera melaporkan itu kepada Satgas Penanganan Covid-19 TTU untuk selanjutnya dilakukan tindak tresing dan trecking sesuai dengan peraturan menteri kesehatan.

Terkait perbedaan hasil rapid antibody di RS. Leona dan rapid yang dilakukan pada hari selanjutnya oleh Tim Satgas Covid-19 Kabupayen TTU, Rizki menjelaskan hal tersebut terjadi karena alat pemeriksaan untuk kedua anak tersebut berbeda.

Sebelumnya, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Yohanes Don Bosco Kefamenanu gelar aksi demonstrasi, buntut dugaan manipulasi hasil rapid test di RS Leona Kefamenanu. Kasus tersebut bermula saat petugas RS. Leona, melakukan test antibodi terhadap dua warga Desa Noebaun, Kecamatan Noemuti, Kabupaten TTU, yang diduga dimanipulasi oleh oknum medis menjadi positif kendati faktanya negatif.

Dalam aksi tersebut, PMKRI cabang Kefamenanu mengeluarkan pernyataan sikap yang ditandatangani Presidium Gerakan Kemasyarakatan, Angelus Tulasi dan Wakil Sekretaris Jenderal, Pricilia Bifel.

Adapun pernyataan sikap PMKRI cabang Kefamenanu, antaralain, menyampaikan mosi tidak percaya terhadap tenaga medis kesehatan RS. Leona Kefamenanu, karena terbukti memanipulasi hasil test antibodi terhadap masyarakat Noebaun. PMKRI menduga ada orientasi bisnis ketimbang memperjuangkan nilai kemanusiaan ditengah pandemi ini.

Mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten TTU segera memanggil dan mengevaluasi Direktur RSUD Kefamenanu dan RS Leona, serta meminta Direktur RS Leona segera menyampaikan klarifikasi terbuka kepada
seluruh masyarakat TTU atas kebobrokan yang telah terjadi. PMKRI memberi deadline waktu satu minggu ke depan, Jika hal ini tidak diindahkan maka PMKRI tak akan segan- segan melakukan demonstrasi besar-besaran tanpa henti.

Tak hanya itu, mosi tak percaya juga dilayangkan kepada kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, lantaran gagal mengawasi tenaga kesehatan di wilayah setempat. Selain itu, dinas kesehatan pun dianggap lemah dalam membuat kajian terkait penangan dan pencegahan Covid-19, serta tidak adanya transparansi terkait anggaran Covid-19. (Man)